Jabodetabek, dari Megalopolis ke Megaregion
Monday, October 19, 2009 Labels: Indonesia, Konsep 0 commentsJabodetabek merupakan salah satu wilayah khusus di Indonesia sehingga mendapatkan perlakuan khusus dalam perencanannya. Jabodetabek bukan lagi megalopolis tetapi sudah menjadi megaregion atau megaloregional. Demikian salah satu isu yang mengemuka dalam international seminar bertema “On Megalopolis: Integrated Development and Management”. Seminar diselenggarakan oleh Fakultas Arsitektur Landskap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti di Hotel Nikko, Jl Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (19/10).
Rektor Trisaksi Prof Dr Thoby Mutis yang membuka seminar ini mengatakan bahwa seminar ini berskala internasional dengan sasaran para praktisi perkotaan dan dosen. Panitia mengundang pakar perkotaan dan perencanaan dari Singapura, Malaysia, hingga Belanda.
Ketua Panitia sekaligus Dekan Fakultas Arsitektur Lanskap dan Teknik Lingkungan Trisaksi Ida Bagus Rabindra mengatakan isu perkotaan terus berkembang seperti terjadi di Jakarta dan sekitarnya, dari megalopolis ke megaregion. “Tak hanya Jakarta, Surabaya juga mengalami hal serupa. Jakarta harus menggandeng wilayah Jawa Barat dan Banten. Surabaya juga harus menggandeng wilayah sekitarnya seperti Sidoarjo dan Gresik. Konsep pembangunannya harus integrated,” kata Rabindra.
Isu-isu di perkotaan masih bersifat klasik terutama soal disparitas antara yang kaya dan yang miskin. “Jalan tol, misalnya, itu didesign untuk orang yang memiliki kendaraan. Mass rapid transit atau MRT sangat mendesak,” katanya lagi. Di luar itu, isu lingkungan seperti daerah resapan atau daerah hijau dan air bersih senantiasa mengemuka, sebab, semua masyarakat harus mendapatkan akses untuk air bersih.





0 comments: to “ Jabodetabek, dari Megalopolis ke Megaregion ” so far...
Post a Comment